Jangan Sampai Dehidrasi

Jangan Sampai Dehidrasi

Iklim ekstrem dan aktivitas ibadah yang padat di Tanah Suci seringkali membuat para jamaah kekurangan cairan, atau disebut dehidrasi. Ketika dehidrasi semakin parah, kelak bisa menimbulkan sakit kepala yang hebat dan berujung pada tidak sadarkan diri (pingsan).

 

Dokter ahli kebugaran tubuh dari Universitas Gadjah Mada, dr. Zaenal Muttaqin Sofro AIFM Sport Circ Med mengatakan, asupan air ke dalam tubuh sangat penting untuk menunjang kelancaran aktivitas proses ibadah haji. Cairan yang dimaksud bukan hanya sebatas air putih, tapi juga elektrolit. “Jadi, bukan air putih biasa saja, tubuh juga memerlukan elektrolit,” katanya.

 

Elektrolit, menurut dokter ini, berguna sebagai penopang kinerja sel-sel di saraf, kontraksi sel-sel otak, dan fungsi kelenjar untuk menghasilkan enzim dan hormon dalam tubuh. Elektrolit bisa didapatkan dari cairan dan mineral yang dikonsumsi jamaah. “Supaya cairan tersebut bisa cepat masuk ke dalam tubuh, lebih baik mengonsumsi cairan yang mengandung elektrolit, misalnya kuah sop yang mengandung garam,” papar Zaenal.

 

Jika jamaah banyak meminum air putih, biasanya akan sering buang air kecil. Namun, kalau meminum cairan yang mengandung elektrolit, jamaah bakal lebih terangsang untuk minum terus, hingga kebutuhan cairan tercukupi.

 

Ia mengingatkan, minum air putih pun perlu diperhatikan. “Harus teratur dan pas,” sarannya. Jangan sampai para jamaah minum sekaligus banyak kemudian tidak minum lagi dalam waktu lama. Kalau hal itu terjadi, kemungkinan bisa mengganggu aktivitas ibadah karena harus sering buang air kecil, dan dalam kurun waktu yang berbeda jamaah tersebut bisa mengalami dehidrasi.

 

Untuk itu, Zaenal menyarankan agar selalu membawa air minum kemana pun jamaah pergi. “Pastikan untuk selalu minum minimal satu tegukan, kemudian di lain waktu satu tegukan lagi. Dengan cara minum yang kontinu dan teratur, dehidrasi pun bisa dihindari,” ujarnya.

 

Cukupi Nutrisi

Selain air putih, yang juga perlu diperhatikan oleh jamaah adalah masalah makanan. Menurut dokter yang sudah berhaji ini, jangan sampai jamaah terlambat makan. “Waktunya makan, ya makan, jangan ditunda.” Makanan yang paling baik, kata dia, adalah sayur-sayuran.

 

Selain makanan pokok yang sudah disediakan, jamaah disarankan untuk selalu menyiapkan buah-buahan sebagai camilan. Sebab, buah-buahan banyak mengandung air yang manfaatnya mencegah dehidrasi. Buah juga mengandung banyak vitamin dan mineral, yang diperlukan untuk mempertahankan daya tahan tubuh selama di Tanah Suci.

 

Makan teratur dan bergizi akan meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga tidak mudah terserang flu, batuk atau penyakit lainnya selama menjalankan ibadah haji. “Dengan begitu konsentrasi beribadah pun akan lebih mantap dan lancar,” papar Zaenal.

 

oleh Rosita Budi Suryaningsih

Direktori Haji dan Umrah, Republika, 2012

 

Related posts: